Text 27 Jun Kesederhanaan itu Memuliakan

Sesampainya saya di Solo Balapan (4 Juni 2011), ternyata ayah saya sudah stand by di peron untuk menyambut kedatangan saya dan langsung menjelaskan misi yang akan saya lakukan selama 4 hari disini.

Misinya terlihat dari ucapan ayah saya, “Kamu disini membantu simbah memanen sama menanam padi ya. Ayah yakin selama 4 hari itu akan menjadi hari terberatmu tetapi kamu akan mendapat sebuah pengalaman yang tidak akan pernah kamu dapat selama ini.”

Semula saya sempat meremehkan kata “hari terberat”, ternyata memang berat -____-

Kenapa berat?

Pertama, tempat eyang saya benar-benar entah berantah! Rumah eyang sebenarnya ada di Yogyakarta, kebetulan ada panen dan musim tanam beliau langsung turun tangan ke sawahnya yang ada di tempat ini. Tempat di perbatasan Klaten dan Sukoharjo dimana sejauh mata memandang hanya ada hamparan lahan pertanian.

Kedua, terkait dengan pernyataan pertama “tempat entah berantah” maka akan dihasilkan kesimpulan singkat “TIDAK ADA SINYAL HP”. Ini mungkin cobaan terberat saya, karena HP sudah nyaris menjadi kebutuhan primer manusia. Bahkan banyak orang rela lupa makan demi membalas sms atau membuka opera mini.

Ketiga, ternyata masa pemanenanny sudah hampir selesai. Lebih tepatnya saya kerja efektif disini cuma sebentar. Sisanya hanya melamun, duduk-duduk, menggoda para kerbau pembajak sawah, dan menunggu diajak main sama teman-teman sekitar sini (BIG THANKS TO NUGROHO NUR FEBRIYANTO, FUAD RIZA MAULANA, PANDU PRASETYO ADJI yang menemani liburan saya kalo ini, Alhamdulillah ya Allah!!)

Namun, Allah itu adil sekali lho. Disatu sisi kita menganggap hal ini begitu membosankan, namun saya menjadi sangat paham dengan kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan saya selama ini. Sebuah pengalaman dan nilai-nilai yang nyaris saya lupakan dan mungkin mulai akan selalu saya ingat semampu saya mengingat (lhoh?).

Kesederhanaan, ya, sebuah kesederhanaan. Pagi harinya dibangunkan oleh tetasan embun pagi yang sejuk, melafalkan adzan di tengah hamparan sawah yang membentuk gradasi kuning dan hijau, menikmati kesegaran air muara Lawu bersama kerbau-kerbau periang (?), hingga melihat para senyum pahlawan pangan yang begitu sederhana.

Malam harinya, menikmati alunan suara suling yang dimainkan simbah (sumpah, keren banget!!) dengan paduan suara para hewan nocturnal, belaian lembut para angin lembah, jutaan titik putih di lautan lazuardy yang penuh misteri, hingga sebuah perasaan aneh yang sederhana..

Yah, begitu kecilnya manusia ini di tengah alam ciptaan-Mu itu. Ditengah kesadaran itu, semakin aku mengucapkan syukur dan jutaan pujian kepada-Mu.

Kesederhanaan itu memuliakan kehudupanmu bukan? :)


Unlimited Word Works digawe karo Yudist Admiral N. Powered by Tumblr.