Kahuripan? Pandanwangi? Untuk para manusia awam yang tidak pernah keluar dari rumahnya, judul diatas mungkin akan terlihat abstrak untuk dibayangkan.
Yup, kedua nama yang terdengar unik tersebut merupakan nama yang sangat familiar bagi orang yang hobi melakukan perjalanan jauh keluar kota. Lebih tepatnya nama sebuah Kereta Api kelas kelas ekonomi milik PT KAI.
Dan dalam 2 minggu liburan ini, saya menaiki 2 kereta itu 2 kali dan lagi-lagi mendapat pengalaman unik saat menaiki kedua kereta tersebut.
Dimulai dari KA Kahuripan, sesuai namanya yang diambil dari kerajaan Kahuripan (kita mengenalnya sebagai kerajaan Kediri dalam berbagai sumber sejarah) yang dipimpin oleh raja yang cukup terkenal yang bernama Airlangga. Mungkin karena kereta ini melayani rute Padalarang-Kediri jadi kereta ini dinamakan Kahuripan.

Lalu bagaimana saya bisa naik kereta ini?
Ide aneh ini muncul akibat penuhnya okupasi KA Harina jurusan Bandung-Semarang hingga bulan Juli!! Jika saya tetap mengikuti keinginan saya untuk tetap pulang naik kereta ini tentu saja ngga bakal bisa liburan di rumah. Ditengah kerasnya kepala ini untuk berpikir, tiba-tiba datang ajakan dari sahabat saya, si Nugroho untuk naik ekonomi Kahuripan. Menurut sarannya, saya disuruh turun di Klaten, lalu istirahat sejenak di rumahnya, dan dari Solo naik kereta lagi ke Semarang. Bahkan dengan cara seperti itu, saya bisa menghemat biaya pulang hingga 70ribu lho.
Singkat kata, akhirnya saya jadi naik Kahuripan dan mengambil start di stasiun Kiaracondong pada tanggal 26 Juni malam Jumat ngga kliwon. Untungnya kami berdua dapat tiket duduk untuk perjalanan selama 9 jam itu (Alhamdulillah). Pada awalnya, seperti yang saya perkirakan kereta api murah ini (27ribu untuk menempuh perjalanan Bandung-Solo) tentu banyak penumpangnya. Tetapi sesaat menjelang berangkat, jumlah penumpangnya semakin tidak normal untuk kereta api ekonomi yang berangkat pada hari kerja (penumpang yang berdiri semakin banyak dan ditambah dengan pedagang makanan yang berjualan di jalan antar kursi).
Entahlah, lagi-lagi timbul pikiran aneh saya. Pemerintah masih belum bisa menyediakan transportasi massal yang nyaman dan ekonomis. Padahal sebenarnya kereta kahuripan ini selalu penuh dan bisa menjadi lahan potensial untuk mengembangkan sistem transportasi massal darat, mulai dari penambahan trayek hingga perbaikan sarana prasarana yang layak (bisa berpegangan saat berdiri atau pintu toiletnya bisa dikunci itu sudah sangat cukup untuk rakyat kecil kayak kami lho). Ya, sayangnya belum ada perhatian lebih dari pemerintah. Mungkin para pejabat belum pernah naik KA ekonomi, hoho.
Sesampainya di Klaten, Nugroho langsung capcus mengantarkan saya ke Stasiun Balapan kota Solo sing dadi kenangannya om Didi Kempot. Kira-kira jam sebelas siang kami sampai dan langsung melihat pemberangkatan kereta arah Semarang. Semula saya kira akan naik KA Banyubiru yang pernah saya naiki waktu ke Yogyakarta saat SMA (rutenya melewati Solo Balapan). Ternyata, KA Banyubiru mengalami PEMINDAHAN RUTE menjadi Semarang-Bojonegoro (sigh). Setelah sempat putus asa, saya melihat lebih jelas lagi dan ada kereta yang melayani rute Semarang-Solo dengan nama Pandanwangi.
Pandanwangi, atau biasa disebut pandan merupakan merupakan tanaman daun yang wangi dan biasa digunakan ibu untuk memberi aroma wangi kepada makanan yang dibuatnya (ini definisinya dari ibu).
Melihat dan menaiki kereta ini, saya benar-benar merasakan aroma berbeda dari kereta api ekonomi biasa. Kereta ini merupakan jenis KRD (kereta rel diesel) yang hampir sama seperti kereta-kereta domestik di Jepang lho. Meski tentunya jangan dibandingkan dengan yang di Jepang, kereta ini sudah mengadaptasi gerbong dengan bangku samping dan pegangan tangan yang diperuntukkan untuk penumpang yang berdiri di tengah gerbong. Karena desain dalam gerbong yang seperti ini, saya bisa mengambil nafas selega mungkin karena udara yang ada dalam gerbong sangat banyak sehingga tidak terasa pengap.

Dengan waktu tempuh 3 jam, bagi orang yang begitu terburu-buru untuk sampai Semarang atau Solo mungkin akan beralih untuk naik bus. Tetapi untuk orang-orang yang niatnya untuk liburan santai hingga fotografi saya sangat MENGANJURKAN untuk naik kereta api ini. Rutenya yang melewati bukit dan hutan ini akan membuat penumpangnya ketagihan dengan panorama yang dapat dilihat dari dalam gerbong. Selain itu, tarifnya yang murah (13ribu boi!!) dengan fasilitas pemandangan yang indah ini sebenarnya tidak sebanding lho. Mungkin karena ini, kalau mau main ke Solo atau Semarang saya selalu mengusahakan untuk bakal naik kereta Pandanwangi ini lagi. Hoho.