Semenjak awal semester 2 ini, entah mengapa saya jadi semakin tertarik melihat dan memikirkan sesuatu di sekitarku.
Kata guru SMA sih katanya memang penglihatanku melihat sesuatu itu cukup unik (padahal silindris dikombo minus 2). Walau ngga merasa seperti itu, kata temen-temen SMA dulu hal seperti itulah yang menjadi kelebihan dan alasan yang sangat masuk akal menjadikanku ketua ROHIS SMA se-Kota Semarang (meski secara ilmu agama juga masih selalu dan selalu belajar).
Kalau dulu SMA sih yang selalu kuperhatikan dan kupikirkan ya macem kayak “mengapa anak IPS selalu dianggap kelas ‘buangan’?” “Mengapa anak SMA solat tepat waktu aja susah?” padahal jam istirahat selalu bertepatan dengan adzan dzuhur. “Mengapa juga banyak yang ngebet masuk kedokteran?” hingga pertanyaan macem “Mengapa kepala sekolah SMA 3 yang baru masih sangat muda?”
dan memang sih, pertanyaan yang muncul didepanku seketika langsung kucari jawabannya dengan caraku sendiri. Hingga memenuhi ruang logikaku dan mampu menjawab pertanyaanku ini dengan jelas..
——
Belajarlah melihat sekitarmu, hal ini yang selalu ditekankan oleh simbok sejak saya masih kecil. Hal yang pertama kulihat disekitarku adalah “KEMISKINAN”. Mengapa? karena saya dibesarkan di lingkungan yang cukup tertinggal. Lingkungan sekitarmu sebenarnya adalah sebuah pemancing nilai pembelajaran. Tumbuh dilingkungan dengan aliran perekonomian yang rendah membuatku terbiasa melihat dan mendengar keluhan ibu-ibu soal sembako yang naik, obrolan sopir angkot yang tak jauh dari persoalan kurangnya penumpang, hingga cerita pak rondha (kalau di perumahan dipanggil “satpam”) tentang kriminalitas yang semakin sering terjadi..
Dengan melihat keadaan lingkungan sekitar, kita akan melihat secara langsung dan kemudian berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan sekitar kita..
Sederhana sih, tapi hal seperti inilah yang hilang di pemimpin-pimimpin bangsa sekarang ini. Mau turun kebawah untuk melihat permasalahan-permasalahan yang dialami rakyatnya..
Lama ngga menulis??
Hemmmm, ngga juga sih. Sejak dari awal semester genap ini sampai sekarang malah kebanyakan proyekan dan deadline buat artikel di edisi perdana majalah himpunan (Insya Allah awal April ini terbit, yeah :D).
Yah, akhirnya saya kembali. Gitu saja sih :)




